Tuesday, July 5, 2016

Bukan Manusia Ramadhan

Bukan Manusia Ramadhan

Ada suatu pertanyaan, “ayo mengaji, cuma sekali dalam seminggu,” dan banyak orang menjawab, “maaf, aku akhir-akhir ini sedang sibuk, takutnya gak bisa bagi waktu, nanti keteteran.” Hal itu menjadi cermin fenomena yang melanda sekarang ini. Dalam bukunya Ahmad Thomson yang berjudul Sistem Dajjal (2014) menyatakan bahwa sistem di dunia ini membuat manusia hanya menjadi produsen dan konsumen, membuat manusia sibuk, sehingga menjadikannya tak ada waktu untuk merenung, dari mana dan mau kemana.
            Kita sedang hidup, kita melihat hari demi hari berlalu, waktu terus berjalan seperti tak ada penghalang. Pagi, siang dan malam silih bergantian menjadi saksi dalam kehidupan. Etika dan moral menjadi pegangan, baik dan buruk yang menjadi batasan. Sebentar bahkan sekejap hidup kita pasti ada akhirnya, “yang fana adalah waktu. Kita, abadi...” itu sajak puisi yang disampaikan Sapardi Djoko Damono. Yah, memang benar waktu itu adalah makna buat setiap kehidupan manusia, semua akan dipertanggungjawabkan saat kehidupan akhirat nanti.
            Seperti saat momentum sekarang ini, yaitu bertepatan dengan bulan ramadhan 1437 H, dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersadba, “Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu.” Sehingga di bulan ini umat muslim berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, pemenuhan diri akan kebutuhan spiritual. Semangat umat muncul sejak satu ramadhan, bahkan semangat bertambah saat 10 hari terakhir ramadhan tiba, mereka menyibukkan diri dengan ibadah, puasa, shalat, berdakwah mengaji dan mengkaji ayat Al-Qur’an, berdzikir, iktikaf di masjid hingga menunaikan Zakat bagi mereka yang ingat.
            Namun tidak terasa, ramadhan sudah bersisa lagi, perlahan akan mulai pergi. Belum lama kita menjumpa, kini perpisahan sudah di depan mata, dan entah kapan kita bisa lagi menjumpa. Sebagai umat muslim, semangat tidak hanya saat ramadhan, atau ketika sesaat 10 hari terakhir ramadhan tiba. Istiqomah saat ramadhan semoga tetap berlanjut hingga saat kita berpisah dengannya. Ya, ibadah kita tidak hanya untuk ramadhan, kesadaran manusia tidak hanya sebatas berkah yang dijanjikan saat ramadhan, agama kita juga bukan agama ramadhan yang hanya sesaat mendekatkan diri kepada sang Rabb saat ramadhan, melainkan adalah agama Islam, yang tetap istiqomah berada dalam jalan yang lurus, teguh dalam menjalankan rukun islam dan selalu taat dengan segala tuntunan ALLAH semata.
            Manusia, alam dan dunia. Sepertinya akan berpisah dengan sendirinya. Sebagai manusia yang dicipta, dan dengan segala anugerah yang diberikan kepada kita, mulai saatnya kita berhijrah dan selalu taat kepada ajaran Islam yang diberikan tuhan untuk manusia, karena kita sadari bersama, dan tidak ada yang bisa menyangkal sebuah kenyataan yang pasti kita jumpa, yaitu sebuah kematian manusia. Karena semua ini bersifat sementara, atau seperti yang dijelaskan Buya Hamka bahwa kesenangan dunia tidak ada habisnya, seperti orang haus meminum air laut yang luas, atau api yang disiram dengan air minyak, bukan semakin padam, melainkan semakin menyala.           
            Semoga ibadah kita tidak sebatas untuk ramadhan, dan waktu taat kita hanya saat ramadhan datang. Bukan juga untuk mengharap pahala yang dijanjikan semata, atau seperti ibadahnya pedagang, sehingga ketika pahala itu tidak ada, akan tiada menyembah-NYA. Akan tetapi, ibadah dan iman kita untuk Allah semata, sebagai pencipta dan Tuhan bagi semesta. Tetap istiqomah, Seperti dalam firman Allah Ta’ala, “katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaanlah besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.” (QS Fussilat: 6)
Tidak berhenti sampai hari ini, atau bahkan nanti, melainkan sampai saat dunia memisahkan manusia. Kita juga bukan manusia ramadhan, yang mengerti baik sesaat bulan ini datang, tetapi manusia yang berTuhan yang mengerti sebagai makhluk yang dicipta dan hamba merdeka yang sadar menjalankan segala perintah-Nya. Dan, ramadhan ini akan menjadi renungan khusus yang mampu membuat kita semakin takwa, dekat dan cinta dengan-Nya, semakin mengikat seterusnya pada jalan yang diturunkan Tuhan kepada hambanya. Islam, Al-Quran dan Sunnahnya.

Penulis:  Muhammad Alan Putra Irawan

0 comments:

Post a Comment