Sunday, October 30, 2016

Refleksi Sumpah Pemuda

Hallo gaes, dalam postingan ini akan disuguhkan mengenai pendapat para mahasiswa di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober lalu. Para mahasiswa ini menyampaikan pendapat mengenai makna dari sumpah pumuda dan juga pandangan mengenai pemuda jaman sekarang. Untuk lebih jelasnya silahkan simak video berikut :

Wednesday, October 19, 2016

UMS Tertarik Beri Gelar Doktor Kehormatan untuk Najwa Shihab



UMS, Pabelan-Online.com – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bambang Setiadji, pertimbangkan gelar doktor kehormatan kepada jurnalis Metro TV, Najwa Shihab.
Seperti yang dilansir dari Solopos.com, Bambang akan mempertimbangkan gelar doktor Honoris Causa(HC) kepada tuan rumah program siaran Mata Najwa tersebut. Najwa dipilih karena memiliki wawasan dan pengetahuan di bidang jurnalistik yang dinilai istimewa. Program Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab dinilai telah memberi dampak positif kepada masyarakat.
“Kalau Najwa jadi mendapat gelar doktor kehormatan berarti menyusul jurnalis senior Karni Ilyas [presentersalah satu televisi swasta nasional] di bidang hukum yang lebih dulu mendapat gelar serupa. Karena itu sekarang ini sedang kami negosiasikan dengan yang bersangkutan terkait dengan pemberian gelar tersebut. Semoga bisa terlaksana akhir tahun ini,” kata Bambang, Senin (17/10/2016).
Salah satu mahasiswa UMS, Dzikrina Aqsa Mahardika,  mendukung rencana UMS memberikan gelar dokter kehormatan kepada Najwa Shihab. Menurutnya Najwa memiliki pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni dalam bidang jurnalistik. Namun ia mengharapkan tidak ada kepentingan tertentu dibalik pemberian gelar tersebut. “Bagus, Mbak Nana (Najwa-red) 16 tahun di dunia jurnalistik. Dan Mbak Nana saat mengawal isu-isu di Indonesia melalui Mata Najwa-nya juga apik,” terangnya ketika dihubungi Pabelan-Online.com, Selasa (18/10/2016).
Sebelumnya UMS pernah memberikan gelar Honoris Causa (HC) kepada jurnalis senior Karni Ilyas dalam bidang hukum 2013 silam. Bambang menginginkan gelar kepada Najwa tersebut rampung akhir tahun 2016.
Sumber : Pabelan-Online.com, Solopos.com


Friday, October 7, 2016

Bukan Memperingati, Hanya Refleksi Mahasiswa “Mengenang” Pancasila


“Saya berdiri saja, karena saya terlalu tinggi,” canda Farqo ketika hendak membuka pembahasan diskusi pada rabu (5/10), ia adalah salah satu narasumber dalam kegiatan Diskusi dan kajian umum tentang “Kesaktian Pancasila” yang digelar diatas karpet merah gedung FKI UMS. Mungkin masyarakat sudah mengenal dengan adanya Pancasila, dimana 1 Juni 1945 dianggap sebagai hari kelahiran pancasila. Ketika farco membuka pembahasan tentang tema tersebut, dia menjelaskan makna apa yang terkandung dalam pancasila itu. Menurutnya, makna pertama, ketuhanan yang maha esa ialah bentuk moralitas bangsa, kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, ialah terwujudnya keadaan yang adil dan beradab, yang ketiga, persatuan Indonesia ialah bentuk komitmen untuk persatuan bangsa, dimana Indonesia memiliki perbedaan suku-suku, dan berbagai macam latar belakang, namun kita tetap dalam kesatuan sebagai bangsa Indonesia.
            Farqo melanjutkan, makna sila keempat, bahwa Negara ialah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan sila terakhir mempunyai makna, adalah pemenuhan keadilan yang menyeluruh bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Menjadi pertanyaan, masih sakti kah pancasila,” tanya farqo kepada peserta diskusi sore itu, melihat fakta yang ada sekarang, kemudian banyak problem-problem yang jauh dari makna-makna pancasila itu sendiri, inilah yang menjadi masalah besar bagi keadaan kita bersama.
            Peserta diskusi tampak menatap, seolah banyak pertanyaan yang muncul, mengenang Pancasila, yang mana kalau dilihat hanya diajarkan saat di bangku Sekolah Dasar (SD) saja. Bergegas Ichwanuddin Buckhori, narasumber kedua, yang dikenal sebagai Presiden BEM UMS melanjutkan pembahasan, “Menjadi permasalahan sekarang ialah, bagaimana Pancasila itu menjadi spirit untuk kaum muda masa kini, itu tugas kita sebenarnya kawan-kawan,” ucap Ikhwan yang mencoba memantik peserta diskusi dengan menyoroti permasalahan-permaslahan sekarang.
            Salah satu  peserta diskusi, Alan langsung membuka ritme pembahasan dengan pertanyaan “Apa yang terjadi dibalik ini semua,  karena secara sejarah, kelahiran pancasila ialah pada 1 Juni 1945, tetapi ada apa dibalik politik soeharto yang menetapkan 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila, menurut saya itu bentuk kejahatan demokrasi yang sampai saat ini dikenang masyarakat.” Ichwan dengan pelan menjawab, “dalam fenomena ini adalah bentuk hegemoni yang dilakukan politik soeharto terhadap masyarakat Indonesia sampai sekarang ini, yang terpenting ialah implementasi pancasila itu sendiri, untuk hari, tidak masalah.”
            Farqo menambahkan, ”yang seharusnya menjadi fokus ialah, pendidikan, karena di sektor pendidikan tidak diajarkan nilai-nilai pancasila, dan melihat masyarakat sekarang ialah banyak yang apatis, karena melihat memang kurang diajarkan pendidikan tentang pancasila itu sendiri.” Peserta diskusi lain, menambahkan pertanyaan “Apa yang terjadi, karena modernitas menjadikan ideologi pancasila semakin ditinggalkan,” Farqo bergegas menjawab bahwa adanya penjajahan baru di era sekarang, modernitas itulah yang menjadikan masyarakat Indonesia semakin meninggalkan Pancasila. Begitu dasyatnya penjajahan ini, ini seharusnya kita tidak meninggalkan pancasila itu sendiri. Ikhwan menambahkan “Sekarang ini seharusnya mempunyai formulasi-formulasi khusus, agar pancasila itu bisa menjadi spirit pemuda sekarang.”
            Muhammad Salma, yang mengaku sebagai mahasiswa Teknik Informatika semester 3 menambahkan pertanyaan, “sebenarnya masa depan Pancasila kedepan seperti apa, melihat kondisi sekarang ini seperti ini,” kondisi sekarang yang semakin meninggalkan pancasila, pemuda yang semakin lupa, dan seolah pancasila hanyalah sebuah formaitas yang diajarkan saat dibangku dasar.
            Dia melanjutkan, “Kemanusiaan yang dominatif dan eksploitatif,” sindirnya dengan tegas, yang menganggap adanya penjajah-penjajah yang mempunyai sila pancasila sendiri, yang ia sebut sebagai ancaman besar Neolib. Diskusi itu nampaknya membuka mata bersama tentang keadaan yang bertolak belakang dengan harapan pancasila itu sendiri, dan itu tugas kita bersama.
            “Kita hidup ditengah-tengah paham liberal, sembarang paham ada, yang paling penting ialah, kita punya pancasila, yang menjadi benteng-benteng kita untuk menyikapi keadaan sekarang ini. “ Tutup farqo, sekaligus menutup pembahasan. Kegiatan diskusi sore itu berjalan menarik, banyak tanya yang menumpuk, kemudian menjadikan refleksi mahasiswa bersama, yang bisa dipetik dari diskusi sederhana sore itu, sebagai pemuda kita seharusnya kembali pada Pancasila itu sendiri, zaman boleh modern, para sejarawan dan Founding father bolehlah sudah tiada, akan tetapi pancasila tetap sebagai falsafah dasar dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh masyarakat Indonesia.


Penulis: Muhammad Alan P I